
Obesitas
adalah istilah yang sering digunakan untuk menyatakan adanya kelebihan berat
badan. Kata obesitas berasal dari bahasa Latin yang berarti makan berlebihan,
tetapi saat ini obesitas didefinisikan sebagai kelainan ata penyakit yang
ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan.
Morbid
obesity adalah keadaan kesehatan dan status gizi dengan akumulasi lemak tubuh
berlebih disertai resiko kelainan patologis yang multi organ.
Klasifikasi
Klasifikasi
berat badan rendah, normal,berat badan lebih berdasarkan indeks masa tubuh.
Indeks Massa Tubuh (BMI)
|
Kg/m2
|
Berat
Badan Rendah
|
<18,5
|
Normal
|
18,5 – 22,9
|
Berat
Badan Lebih
|
23,0
|
Berat Bdan
Lebih dengan Resiko
|
23,0 –
24,9
|
Obes 1
(ringan)
|
25,0 –
40,0
|
Obes 2
(sedang)
|
40,0 –
100,0
|
Jenis
obesitas:
a. Tipe
Android (tipe buah apel)
Kegemukan
tipe ini ditandai dengan penumpukan lemak yang berlebihan dibagian tubuh
sebelah atas yaitu disekitar dada, bahu, leher dan muka. Pada muka ini lebih
mudah menurunkan berat badan dibanding tipe Genoid (tipe buah pear) asal
bersamaan dengan diet dan olah raga yang tepat.
b. Tipe
Genoid (tipe buah pear)
Pada tipe
ini lemak tertimbun dibagian tubuh sebelah bawah yaitu disekitar perut,
pinggul, paha, pantat, dan umumnya banyak ditemui pada wanita yang lebih sukar
untuk menurunkan berat badan.
Etiologi
Penyebab
morbid obesity adalah multifaktor, faktor berikut ini sedikitnya terlibat pada
beberapa kasus obesitas:
a. Genetik
Atau Keturunan
Obesitas
pada manusia biasanya keturunan, tetapi memisahkan penyebab genetik dengan
lingkungan adalah sukar, kemungkinan:
a)
Menempatkan senter makan di atas senter makan normal.
b) Herediter
abnormal pada faktor psikik
c) Faktor
genetik pada pemakaian energi dan penyimpanan energi
Bakat gemuk
faktor keturunan dapat mempengaruhi terjadinya kegemukan. Pengaruhnya belum
jelas, tetapi ada bukti yang mendukung fakta bahwa keturunan merupakan faktor
penguat terjadinya kegemukan. Dari hasil penelitian gizi di Amerika serikat
dilaporkan bahwa anak-anak dari orang tua normal mempunyai 10% peluang menjadi
gemuk, peluang tersebut akan meningkat menjadi 40-45% bila salah satu orang
tuanya menderita obesitas, dan akan meningkat lagi menjadi 70-80% bila kedua
orang tuanya mengalami obesitas. Ada penyakit Impaired Glucose Tolerance
(IGT) dengan pemeriksaan biologi molekular (b cell dysfunction) menunjukkan ada
kelainan genetik dan dengan gejala obesitas.
b. Faktor
Endokrin
Hipotiroidei
menjadi obesitas, kemungkinan karena hilangnya aktivitas katabolisme, juga
karena kerja tiroksin untuk liposis, dapat dilihat pada miksudem
Resisten
insulin pada diabetes tipe II sering merupakan akibat obesitas, menurunnya reseptor
insulin terutama di otot skelet, hati dan jaringan lemak.
Fenomena ini
diikuti dengan menurunnya kemampuan insulin untuk transpor glukose, oksidasi
glukose, dan hipogenesis leh sel adipose.
Sensitivitas
penghambat liposis dalam sel lemak individu obesitas menjadi naik.
c.
Faktor Sarafi (nerognik)
Pada manusia
kerusakan fungsional atau strktural seperti tumor, trauma dan inflamasi sampai
dengan memberikan obesitas.
d.
Pola Makan
Saat ini
pola makan adalah faktor yang paling memengaruhi terjadinya kasus obesitas.
Bayangkan di mana-mana ada mall baru, setiap kali anak-anak muda jadi kepingin
mencoba mall yang baru. Janjian sama teman di mall. Menunggu waktu
ekstrakulikuler ke mall. Weekend ke mall lagi. Padahal di mall jarang ada
restoran yang menyediakan makanan sehat. Yang ada hanya burger, pizza, ayam
goreng, crepes, dan lain-lain yang masuk kategori junk food.” Padahal junk food
mempunyai kandungan tinggi kalori, dari karbohidrat dan dari lemak. Itu yang
menyebabkan berat badan cepat naik,” ujar Dr Leane.
Pola hidup
modern, dengan pola makan modern pula, yang sekarang ini banyak dianut orang
ternyata sangat berpotensi rawan Obesitas. Sebab, gaya hidup dan pola makan
yang disebut modern ini jelas sangat mengancam kualitas kesehatan, justru
karena kelebihan gizinya. Kelebihan gizi membuat orang menjadi kegemukan yang
mengarah munculnya penyakit kronis, khususnya diabetes melitus (DM).
Obesitas
dapat terjadi karena salah satu faktor atau kombinasi faktor, antara lain (1)
suatu asupan makanan yang berlebih, (2) rendahnya pengeluaran energi basal, dan
(3) kurangnya aktivitas fisik. Terjadinya obesitas karena adanya
ketidakseimbangan antara asupan energi dan energi yang dikeluarkan atau
digunakan untuk beraktivitas. Karena asupan terlalu banyak sementara pengeluaran
kurang, maka terjadilah mula-mula overweight (kelebihan berat) dan selanjutnya
menjadi obese (gemuk).
e.
Gaya Hidup
Seberapa
sering anak-anak muda kita berjalan kaki, Ke mal atau ke kafe sewaktu weekend
banyak yang mengendarai mobil, Banyak diantaranya yang malas ikut kegiatan
ekstrakulikuler, dan mereka merasa lebih nyaman di kamar sambil main PS. Itulah
yang menyebabkan tidak adanya output energi,
f.
Lingkungan
Pengaruh
keluarga, biasanya dari keluarga mampu membelikan anak atau keluarganya
makanan, atau uang saku yang berlebihan, pengaruh trend makanan junk fod
seperti kentang goreng, pizza, burger, salad, ice cream,dll.
1) Kebiasaan
Kebiasaan
makan dalam suatu keluarga secara tidak langsung di contoh oleh anak – anaknya,
misalnya makan yang berlebih, frekuensi makan yang sering, kelebihan snack dan
makan di luar waktu makan.
2) Cara
Memilih Makan Yang Salah
Hal ini
terjadi terutama disebabkan semakin banyaknya di jual makanan cepat saji yang
mengandung kalori tinggi (padat energi), seperti pizza, hamburger, fried
chicken, spageti, es krim, kue tart, donat, dan sebagainya yang mengandung
lemak tinggi dan gula berlebih.
3)
Menggoreng dan Memasak Dengan Santan:
Minyak dan
santan adalah lemak yang mengandung ikatan jenuh sehingga sukar dipecah menjadi
bahan bakar. Selain itu, makanan yang digoreng dan diberi santan biasanya
terdiri dari bahan – bahan makanan tinggi kolesterol misalnya daging goreng,
gulai, dan rendang. Oleh karena itu biasakanlah lebih sering memasak dengan
cara memepes, mengetim, membakar atau memanggang.
4) Kebiasaan
Mengemil
Makan di
luar waktu makan, bila tidak dibatasi, kalori yang masuk akan sanggat tinggi
karena biasanya makanan yang dipakai kue – kue manis dan gurih.
5) Melupakan
Makan Pagi
Karena buru
– buru dan dianggap tidak praktis, orang biasanya akan melewatkan makan
paginya. Tidak disadari bahwa hal tersebut mengakibatkan cepat lapar. Makan
pagi sangat diperlukan untuk mendapat energi saat akan kerja, Rasa lapar akibat
tidak makan pagi akan dikompensasikan beberapa jam kemudian sehingga secara
tidak sadar timbul perasaan lapar dan akan mencari makanan camilan ataupun
makan siang yang jumlahnya jauh lebih baik banyak dibandingkan kalau sudah
makan pagi sebelumnya.
6) Makan
Makanan Secara Berlebihan
Frekuensi
makan yang tidak teratur Menghindari nasi: penderita obesitas terkadang begitu
hobi terhadap nasi, mereka beranggapan bahwa seolah – olah nasi adalah sumber
peningkatan berat badan. Tanpa disadari, perasaan ini dikompensasikan kemakanan
lain sebagai pengganti nasi.
g. Psikologi
Makan
berlebihan dapat terjadi sebagai respon terhadap kesepian, berduka depresi.
Karena dapat di konotasikan waktu luang sebagi jam makan.
Stres atau
depresi merupakan faktor pisikologis (emosional). Menurut Dr.Hilde Bruch,
faktor tersebut berhubungan erat dengan rasa lapar dan nafsu makan. Sejumlah
hormon akan disekresi sebagai tanggapan dari keadaan psikologis sehingga
terjadi peningkatan metabolisme energi untuk dipecah dan digunakan untuk
aktifitas fisik. Jika seseorang tidak dapat mengunakan bahan bakar yang telah
disediakan maka tubuh tidak mempunyai alternatif lain sehinga menyimpanya
sebagai lemak. Proses tersebut menyebabkan glukosa darah menurun sehingga
menyebabkan rasa lapar pada orang yang mempunyai tekanan psikologis.
Stres (rasa
cemas, takut) akan muncul pada pola yang berbeda untuk setiap orang. Beberapa
orang dalam menghadapinya akan mengalihkan perhatian pada makanan, terutama
yang menjadi kesukaanya, memang sementara waktu, hal tersebut dapat mengatasi
kejemuan, menimbulkan perasaan puas, dan mengatasi suasana stres. Apabila
keadaan ini berlanjut dan tidak terkontrol, otomatis akan timbul suatu
kebiasaan makan yang tidak baik karena dapat mengakibatkan kegemukan
(obesitas). Terutama bila makanan yang sering dimakan kaya akan kalori, tinggi
lemak dan karbohidrat.
Metabolisme
glukosa berperan penting dalam mengatur penumpukan lemak, selama kelebihan
kalori disimpan sebagai lemak dan kekurangan glukosa akan terjadi pelepasan
lemak sebagai sumber energi. Individu yang obesitas mampu menyimpan lemaknya
dengan mudah, namun tidak mampu melepas lemak ini atau membakarnya untuk
energi.
Faktor
heredity juga berperan penting dalam perkrmbangan obesity. Individu yang
obes ditandai dengan kebiasaan makan pada malam hari dan sering kali tidak
makan saat pagi hari.
Ada teori
yang menjelaskan mengenai perkembangan obesitas yaitu pertama, teori sel
adipose menjelaskan jumlah sel di jaringan adipose meningkat maka ukuran sel
lemak juga meningkat. Kedua, teori point set bahwa individu yang mempunyai
tingkat predetermine untuk berat badan relatif stabil selama usia dewasa, maka
dengan meningkatnya intake kalori maka metabolic rate meningkat untuk membakar
kelebihannya, bila intake dikuirangi maka metabolisme menurun untuk menyimpan
energi.
Faktor
sosial budaya juga berperan penting dalam peningkatan berat badan.pola makan
tiap budaya dan sosial berbeda. Begitu juga denga faktor psikologis bisa
memberikan suatu dasar untuk pola makan. Pada remaja juga kebiasaan makannya
adalah mencoba berbagai makanan dan senang makan dengan kawan bermainn
dibandingkan dengan keluarga. Para remaja umumnya emosional mereka yang
dipengaruhi adalah gangguan body image, harga diri rendah, isolasi sosial,
depresi dan merasa ditolak.
Obesitas
dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapi pada anak biasanya timbul
menjelang remaja dan dalam masa remaja terutama anak wanita, selain berat badan
meningkat dengan pesat, juga pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat (ternyata
jika periksa usia tulangnya), sehingga pada akhirnya remaja yang cepat tumbuh
dan matang itu akan mempunyai tinggi badan yang relative rendah dibandingkan
dengan anak yang sebayanya.
Bentuk
tubuh, penampilan dan raut muka penderita obesitas :
a. Paha
tampak besar, terutama pada bagian proximal, tangan relatif kecil dengan jari –
jari yang berbentuk runcing.
b. Kelainan
emosi raut muka, hidung dan mulut relatif tampak kecil dengan dagu yang
berbentuk ganda.
c. Dada dan
payudara membesar, bentuk payudara mirip dengan payudara yang telah tumbuh pada
anak pria keadaan demikian menimbulkan perasaan yang kurang menyenangkan.
d. Abdomen,
membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul lonceng, kadang – kadang
terdapat strie putih atau ungu.
e. Lengan
atas membesar, pada pembesaran lengan atas ditemukan biasanya pada biseb dan
trisebnya
Pada
penderita sering ditemukan gejala gangguan emosi yang mungkin merupakan
penyebab atau keadaan dari obesitas.
Penimbunan
lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan
paru – paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun
penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa
terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara
waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas
bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan
memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan
kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit. Seseorang yang menderita
obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan
berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan
mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan
akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.
1.
Pemeriksaan metabolik atau endorin
Dapat
menyatakan ketidaknormalan misalnya hipotiroidisme, hipogonadisme, peningkatan
pada insulin, hiperglikemi. Dapat juga menyebabkan gangguan neuroendokrin dalam
hipotalamus yang mengakibatkan berbagai gangguan kimia.
2.
Pemeriksaan antropometrik
Dapat
memperkirakan rasio lemak dan otot.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
Obesitas dianjurkan agar melalui banyak cara secara bersama-sama. Terdapat
banyak pilihan antara lain:
- Gaya hidup
Perubahan
perilaku dan pengaturan makan. Prinsipnya mengurangi asupan kalori dan
meningkatkan keaktifan fisik, dikombinasikan dengan perubahan perilaku. Kata
pepatah Cina kuno “makan malam sedikit akan membuat Anda hidup sampai sembilan
puluh sembilan tahun”. Pertama usahakan mencapai dan mempertahankan BB yang
sehat. Konsumsi kalori kurang adalah faktor penting untuk keberhasilan
penurunan BB. Pengaturan makan disesuaikan dengan banyak faktor antara lain
usia, keaktifan fisik. Makan jumlah sedang makanan kaya nutrien, lemak rendah
dan kalori rendah. Pilih jenis makanan dengan kepadatan energi rendah seperti
sayur-sayuran dan buah-buahan, jenis makanan sehat, jenis karbohidrat yang
berserat tinggi, hindari manis-manisan, kurangi lemak. Awasi ukuran porsi, dan
hitung kalori misalnya makanan yang diproses mengandung lebih banyak kalori
daripada yang segar. Perbanyak kerja fisik, olahraga teratur, dan kurangi waktu
nonton TV.
- Bedah bariatrik
Di Amerika
Serikat cara ini dianjurkan bagi mereka dengan IMT 40 kg/m2 atau IMT 35,0-39,9
kg/m2 disertai penyakit kardiopulmonar, DM t2, atau gangguan gaya hidup dan
telah gagal mencapai penurunan BB yang cukup dengan cara non-bedah. (NIH
Consensus Development Panel pada tahun 1991). Kemudian pada tahun 2004 ASBS
Consensus menganjurkan juga cara ini untuk mereka dengan IMT 30,0–34,9 kg/m2
dengan keadaan komorbid yang dapat disembuhkan atau diperbaiki secara nyata.
Dapat diharapkan penurunan BB maksimal 21–38%.
- Obat-obat anti obesitas
Ada obat
yang mempunyai kerja anoreksian (meningkatkan satiation, menurunkan selera
makan, atau satiety, meningkatkan rasa kenyang, atau keduanya), contohnya Phentermin.
Obat ini hanya dibolehkan untuk jangka pendek. Orlistat menghambat enzim lipase
usus sehingga menurunkan pencernaan lemak makanan dan meningkatkan ekskresi
lemak dalam tinja dengan sedikit kalori yang diserap. Sibutramine meningkatkan
statiation dengan cara menghambat ambilan kembali monoamine neurotransmitters
(serotonin, noradrenalin dan sedikit dopamin), menyebabkan peningkatan
senyawa-senyawa tersebut di hipotalamus. Rimonabant termasuk kelompok
antagonuis CB1, yang menghambat ikatan cannabinoid endogen pada reseptor CB1
neuronal, sehingga menurunkan selera makan dan menurunkan BB. Orlistat,
sibutramin dan rimonabant dapat dipergunakan untuk jangka lama dengan
memperhatikan efek sampingnya; rimonabant masih ditunda di Amerika Serikat.
Sayangnya obat-obatan tersebut tiada yang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan
orang. Oleh karena itu industri farmasi masih mengembangkan banyak calon obat
baru.
- Balon Intragastrik
Balon
Intragastrik adalah kantung poliuretan lunak yang dipasang ke dalam lambung untuk
mengurangi ruang yang tersedia untuk makanan.
- Pintasan Usus
Pintasan
usus meliputi penurunan berat badan dengan cara malabsorbsi. Tindakan ini
kadang-kadang dilakukan dengan diversi biliopankreatik, yang memerlukan reseksi
parsial lambung dan eksisi kandung empedu dengan transeksi jejunum . jejunum
proksimal dianastomosiskan (dihubungkan melalui pembedahan) ke ilium distal,
dan jejunum distal dianastomosiskan ke bagian sisa dari lambung.
Seorang
obesitas menghadapi risiko masalah kesehatan yang berat, antara lain:
- Hipertensi.
Penambahan
jaringan lemak meningkatkan aliran darah. Peningkatan kadar insulin berkaitan
dengan retensi garam dan air yang meningkatkan volum darah. Laju jantung
meningkat dan kapasitas pembuluh darah mengangkut darah berkurang. Semuanya
dapat menungkatkan tekanan darah.
- Diabetes.
Obesitas
merupakan penyebab utama DM t2. Lemak berlebih menyebabkan resistensi insulin,
dan hiperglikemia berpengaruh negatif terhadap kesehatan.
- Dislipidemia.
Terdapat
peningkatan kadar low-density lipoprotein cholesterol (jahat), penurunan kadar
high-density lipoprotein cholesterol (baik) dan peningkatan kadar trigliserida.
Dispilidemia berisiko terbentunya aterosklerosis.
- 4. Penyakit jantung koroner dan Stroke
Penyakit-penyakit
ini merupakan penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis.
- Osteoartritis.
Morbid
obesity memperberat beban pada sendi-sendi.
- 6. Apnea tidur.
Obesitas
menyebabkan saluran napas yang menyempit yang selanjutnya menyebabkan henti
napas sesaat sewaktu tidur dan mendengkur berat.
- Asthma
Anak dengan
BBL atau obes cenderung lebih banyak mengalami serangan asma atau pembatasan
keaktifan fisik.
- 8. Kanker
Banyak jenis
kanker yang berkaitan dengan BBL misalnya pada perempuan kanker payudara,
uterus, serviks, ovarium dan kandung empedu; pada lelaki kanker kolon, rektum
dan prostat.
- 9. Penyakit perlemakan hati
Baik peminum
alkohol maupun bukan dapat mengidap penyakit perlemakan hati (non alcoholic
fatty liver disease = NAFLD) atau non alcoholic steatohepatitis (NASH) yang
dapat berkembang menjadi sirosis.
- 10. Penyakit kandung empadu
Orang dengan
BBL dapat menghasilkan banyak kolesterol yang berisiko batu kandung empedu.
Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
- Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan asupan nutrisi.
Tujuan :
Menyeimbangkan berat badan
Kiteria
hasil :
- Pasien menunjukan perubahan pola makan dan keterlibatan individu dalam progam latihan.
- Menunjukan penurunan berat badan dengan pemeliharaan kesehatan optimal.
Intervensi
|
Rasional
|
Mandiri
Kolaborasi
Health Education
|
|
- Pola nafas tak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
Tujuan :
Pola nafas menjadi efektif
Kriteria
hasil:
- Memperthankan ventilasi adekuat.
- Tak mengalamai sianosis atau tanda hipoksia lainnya.
Intervensi
|
Rasional
|
Mandiri:
Kolaborasi:
|
|
- Diare berhubungan dengan perubahan diet serat.
Tujuan :
Diare teratasi
Kriteria
hasil:
- Meningkatkan fungsi usus mendekati normal.
- Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan rasional pengobatan.
Intervensi
|
Rasioanl
|
Mandiri:
Kolaborasi:
|
|
- Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan imobilisasi atau tirah baring.
Tujuan :
Perfusi jaringan baik
Kriteria
hasil:
- Mempertahankan perfusi individu yang tepat, misal, kulit hangat/kering dan tanda vital dalam rentang normal.
- Mengidentifikasi faktor penyebab/resiko.
- Menunjukkan perilaku memperbaiki/mempertahankan sirkulasi.
Intervensi
|
Rasional
|
Mandiri:
Kolaborasi:
|
|
- Gangguan citra tubuh atau harga diri berhubungan dengan factor psikososial (penekanan untuk menguruskan badan).
Tujuan :
Meningkatkan rasa percaya diri klien
Kriteria
Hasil :
- Mengakui diri sebagai individu yang memiliki tanggung jawab.
- Klien mampu bersosialisasi dengan lingkungan secara normal.
- Menunjukkan beberapa penerimaan diri.
- Mencari informasi dan secara aktif mengikuti penurunan berat badan dengan tepat.
Intervensi
|
Rasional
|
Mandiri:
Kolaborasi
:
|
|
- Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelebihan berat badan.
Tujuan :
Kebutuhan untuk beraktivitas klien terpenuhi.
Kriteria
hasil :
- Aktivitas fisik meningkat
- ROM normal
- Klien bisa melakukan aktivitas
Intervensi
|
Rasional
|
Mandiri :
|
|
- Kelebihan cairan berhubungan dengan kelebihan asupan natrium/cairan
Tujuan :
Kebutuhan cairan klien dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh klien.
Kriteria
hasil :
- Menunjukkan perubahan-perubahan berat badan badan yang lambat
- Mempertahankan pembatasan diet dan cairan
- Menunjukkan turgor kulit normal tanpa edema
- Melaporkan adanya kemudahan dalam bernafas atau tidak terjadi napas pendek
- Melaporkan penurunan rasa haus
- Melaporkan berkurangnya kekeringan pada membran mukosa mulut
Intervensi
|
Rasional
|
|
0 komentar:
Post a Comment