Definisi
Malnutrisi adalah suatu keadaan di
mana tubuh mengalami gangguan terhadap absorbsi, pencernaan, dan penggunaan zat
gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas.
- Malnutrisi merupakan kekurangan konsumsi pangan secara relatif atau absolute untuk periode tertentu.
- Malnutrisi (Gizi salah) adalah kesalahan pangan terutama terletak dalam ketidakseimbangan komposisi hidangan penyediaan makanan.
Etiologi
a. Penyebab langsung:
Kurangnya asupan makanan: Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah
makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara
pemberian makanan yang salah.
Adanya
penyakit: Terutama
penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrien
oleh tubuh.
b
b. Penyebab tidak langsung:
1 1.Kurangnya ketahanan pangan keluarga: Keterbatasan keluarga
untuk menghasilkan atau
mendapatkan makanan.
2
2.Kualitas
perawatan ibu dan anak.
3
3.Buruknya pelayanan
kesehatan.
4
4.Sanitasi lingkungan yang kurang.
Manifestasi klinis
Adapun tanda dan gejala dari malnutrisi adalah sebagai berikut:
- Kelelahan dan kekurangan energi
- Pusing
- Sistem kekebalan tubuh yang rendah (yang mengakibatkan tubuh kesulitan untuk melawan infeksi)
- Kulit yang kering dan bersisik
- Gusi bengkak dan berdarah
- Gigi yang membusuk
- Sulit untuk berkonsentrasi dan mempunyai reaksi yang lambat
- Berat badan kurang
- Pertumbuhan yang lambat
- Kelemahan pada otot
- Perut kembung
- Tulang yang mudah patah
- Terdapat masalah pada fungsi organ tubuh
Patofisiologi
Sebenarnya malnutrisi merupakan
suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat
digolong-kan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent
(kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan)
memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan
Dalam keadaan kekurangan makanan,
tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan
pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mem-pergunakan karbohidrat, protein
dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan;
karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan
bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit,
sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme
protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera
diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak
dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat
mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau
kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan
sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.
Pada Malnutrisi, di dalam tubuh sudah tidak ada lagi cadangan makanan untuk
digunakan sebagai sumber energi. Sehingga tubuh akan mengalami defisiensi
nutrisi yang sangat berlebihan dan akan mengakibatkan kematian.
Klasifikasi
Kurang Energi Protein, secara umum dibedakan menjadi marasmus dan
kwashiorkor.
a
a.Marasmus
adalah suatu
keadaan kekurangan kalori protein berat. Namun, lebih kekurangan kalori
daripada protein. Penyebab marasmus adalah sebagai berikut :
1.
Intake kalori yang sedikit.
2.
Infeksi yang berat dan lama, terutama infeksi enteral.
3.
Kelainan struktur bawaan.
4.
Prematuritas dan penyakit pada masa neonates.
5. Pemberian
ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup.
6.
Gangguan metabolism.
7.
Tumor hipotalamus.
8. Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian
makanan yang kurang.
9.
Urbanisasi.
b
b.Kwashiorkor
adalah suatu
keadaan di mana tubuh kekurangan protein dalam jumlah besar. Selain itu,
penderita juga mengalami kekurangan kalori. Penyebabnya adalah :
1.
Intake protein yang buruk.
2.
Infeksi suatu penyakit.
3.
Masalah penyapihan.
Tabel Klasifikasi IMT Menurut
WHO :
Klasifikasi
|
IMT (kg/ m2)
|
Malnutrisi berat
|
< 16,0
|
Malnutrisi sedang
|
16,0 – 16,7
|
Berat badan kurang/ malnutrisi ringan
|
17,0 – 18,5
|
Berat badan normal
|
18,5 – 22,9
|
Berat badan kurang
|
≥ 23
|
Dengan resiko
|
23 – 24,9
|
Obes I
|
25 – 29,9
|
Obes II
|
≥ 30
|
Insidensi
Program Lembaga Pangan Dunia (WFP)
dalam penelitannya pada awal tahun 2008 menyebutkan jumlah penderita gizi buruk
dan rawan pangan di Indonesia mencapai angka 13 juta. Meski data pemerintah
yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari secara resmi
menyebutkan penderita gizi buruk hingga tahun 2007 mencapai angka 4,1 juta,
atau naik tiga kali lipat dibanding jumlah penderita yang sama di tahun 2005
yakni 1,67 juta jiwa.
Tentunya, angka ini sangat
mencengangkan dunia internasional, kenyataan ini membuat salah satu produsen
makanan ringan terkemuka di Indonesia menggalang aksi kepedulian dengan
mencantumkan data ini dalam kemasan produknya sehingga diharapkan masyarakat
berempati dan kemudian mendonasikan sebagian uangnya untuk penanggulangan gizi
buruk.
Hingga akhir April 2008, sejumlah
bencana masih melanda berbagai daerah, musim penghujan belum kunjung usai,
angin puting beliung, rob, banjir bandang dan longsor yang melanda Jawa Tengah
dan Jawa Timur dan badai elnina yang berefek pada ombak 4-6 meter di sebagian
wilayah laut Indonesia. Musibah ini mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan
lahan pertanian. Lahan pertanian yang sedianya menjadi sumber pangan bagi
masyarakat, kondisnya hancur, gagal panen (puso). Akibatnya masyarakat terancam
kekurangan pangan.
Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi
kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan. Penderita marasmus tanpa
komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian
makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta
dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah
sakit.
Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap:
1. Tahap
awal yaitu 24-48 jam per-tama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk
menyelamat-kan jiwa, antara lain mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis
dengan pemberian
cairan intravena.
a.Cairan yang diberikan ialah
larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%.
b.Cairan
diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari.
c.Mula-mula
diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
d.Kemudian
140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
2. Tahap kedua yaitu penyesuaian.
Sebagian besar penderita tidak memerlukan koreksi cairan dan elektrolit,
sehingga dapat langsung dimulai dengan penyesuaian terhadap pemberian makanan. Penatalaksanaan kwashiorkor
bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. Keadaan shock memerlukan
tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan
darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat, gula
sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah
dapat menberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat juga diberikan.
Dikarenan anak telah tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu yang lama,
memberikan makanan per oral dapat menimbulkan masalah, khususnya apabila
pemberian makanan dengan densitas kalori yang tinggi. Makanan harus diberikan
secara bertahap/ perlahan. Banyak dari anak penderita malnutrisi menjadi
intoleran terhadap susu (lactose intolerance) dan diperlukan untuk memberikan
suplemen yang mengandung enzim lactase.
0 komentar:
Post a Comment